Bookmark and Share
Loading...

Minggu, 08 Agustus 2010

BISNIS SYARIAH INDONESIA DAN MALAYSIA TERUS BERPACU

Berlomba untuk kebaikan adalah sesuatu yang perlu dicontoh,
misalnya yang dilakukan sejumlah bank dengan membuka Unit
Usaha Syariah (UUS) untuk membantu para pengusaha kecil
guna memacu pertumbuhan ekonomi mikro di tanah air.
Ada optimisme bahwa bisnis syariah di Indonesia di masa
datang akan maju pesat sebagaimana tergambar dari berpacunya
sejumlah bank untuk membuka UUS, misalnya yang dilakukan
Bank BRI, Bank Danamon, BNI dan BII yang telah membentuk
UUS untuk memudahkan koordinasi dalam penyaluran dana
kepada para pengusaha kecil.
Bank-Bank syariah yang menganut prinsip keseimbangan itu
kian mendapat tempat di kalangan masyarakat karena tidak
bersifat eklusif untuk umat Islam saja, tapi juga bermanfaat
untuk seluruh umat.
Perkembangan bank-bank syariah merupakan sikap tanggap
atas kebutuhan tambahan modal bagi para pengusaha kecil di
tengah masih lambannya pertumbuhan ekonomi mikro setelah
Indonesia diterpa krisis keuangan sekitar satu dekade lalu.
Dampak negatif dari perkembangan ekonomi global terhadap
para pengusaha ekonomi kecil tampaknya juga telah menyulitkan
posisi mereka untuk bangkit setelah krisis keuangan itu guna
menghadapi tantangan persaingan yang kian keras.
Contoh lain dari sikap tanggap bank-bank tersebut yaitu
seperti halnya PT Bank Lippo Tbk yang dikabarkan menyiapkan
dana Rp5 miliar untuk membentuk UUS yang rencananya akan
beroperasi pada Nopember 2007.
Menurut Direktur Keuangan Bank Lippo, Thila Nadason di
Jakarta belum lama ini, Bank Lippo akan meluncurkan UUS
dengan nama LB (Lippo Bank) Salam pada Nopember tahun
ini.
Dia menyebutkan bahwa modal awal yang disiapkan Bank
Lippo untuk UUS itu sebesar Rp 5 miliar dan pada akhir tahun
ini diharapkan mencapai Rp 10 miliar yang diperoleh melalui
dana pihak ketiga.
Sebagai tahap awal tahun ini, UUS tersebut akan dibuka di
Jakarta, dan pada tahun 2008 akan diperluas ke Bandung dan
Surabaya.
Selain itu Bank Umum syariah BRI dikabarkan akan beroperasi
secara penuh terhadap bank umum syariah pada Januari 2008.
Menurut Sulaiman Arif Arianto, Direktur Usaha Mikro
Kecil dan Menengah (UMKM) BRI, usai acara Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta belum lama
ini, pengoperasian itu dilakukan setelah para pemegang saham
dalam RUPSLB telah menyetujui akuisisi Bank Jasa Arta senilai
Rp61 miliar.
Bank Jasa Arta, katanya, akan dikonversi menjadi bank umum
syariah dan akan digabung dengan UUS perseroan.
Dengan penggabungan tersebut, maka bank umum syariah ini
akan memiliki 51 cabang, terdiri dari 45 cabang dari UUS BRI
yang ada sekarang dan enam cabang milik Bank Jasa Arta.
Dia menyebutkan, Bank Jasa Arta saat ini memiliki total aset
Rp250 miliar dan telah menyalurkan kredit sebanyak Rp170
miliar.
“Bank syariah ini akan berfokus pada penyaluran kredit UMKM,
sedangkan untuk membiayai yang besar (corporate), kita akan
bersindikasi dengan bank syariah lain,” ujar Sulaiman.
edisi ke2 new size.indd 44 5/6/2008 3:09:25 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n 45ai
Berita
Dalam RUPSLB tersebut para pengusaha saham telah
menyetujui “spin off ” untuk UUS guna dimasukkan ke dalam
bank umum syariah tersebut serta akan melakukan penambahan
penyertaan modal sebesar Rp 500 miliar.
Dia menambahkan, dana yang Rp500 miliar itu sudah termasuk
nilai akuisisi Bank Jasa Arta sebesar Rp61 miliar.
Target dari Bank Syariah BRI adalah Rp 1,5 triliun, sedangkan
saat ini kredit yang disalurkan melalui UUS sebanyak Rp1,2
triliun, kata Sulaiman.
Dirham Shield
Selain itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (Bank Danamon)
dan PT Panin Life Tbk. (Panin Life) juga meluncurkan Dirham
Shield, fitur asuransi perlindungan tagihan kartu, khusus bagi
para pemegang Dirham Card — kartu syariah yang pertama di
Indonesia.
“Peluncuran Dirham Shield ini adalah bagian dari upaya kami
untuk terus menerus meningkatkan keuntungan-keuntungan
dari Dirham Card,” kata Hendarin Sukarmadji, Direktur Syariah
Bank Danamon.
“Dengan fitur ini maka semakin banyak pula keuntungan yang
dapat diperoleh para pemegang Dirham Card untuk menunjang
gaya hidup mereka,” lanjutnya.
Dirham Shield menyediakan perlindungan dari kecelakaan
dan cacat permanen yang dialami pemegang kartu tersebut,
sehingga membatasi kewajiban bagi anggota keluarga mereka
untuk membayar sisa tagihan kartu yang ada.
“Selaras dengan keinginan kami untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat di seluruh penjuru Indonesia, kami merasa bangga
dipercaya untuk bekerja sama dan memberikan pelayanan
terhadap nasabah Bank Danamon Syariah melalui produk
Dirham Shield ini,” kata Fadjar Gunawan, Direktur Utama PT
Panin Life Tbk.
“Hal ini merupakan salah satu bentuk perwujudan komitmen
kami untuk memberikan pelayanan terbaik, termasuk bagi
nasabah Bank Danamon Syariah,” lanjutnya.
Bank Danamon Syariah dirintis pada tahun 2002, ditandai
dengan dibukanya Kantor Cabang Syariah pertama di Ciracas
Jakarta Timur.
Kini, Bank Danamon Syariah didukung oleh tujuh Kantor
Cabang Syariah (KCS) yang tersebar di kota-kota besar seperti
Jakarta, Bukit Tinggi, Banda Aceh, Surabaya, Martapura, Solo
dan Makassar serta tiga Unit Kantor Cabang Pembantu Syariah
(KCPS) di Jakarta dan tujuh Cabang Office Channeling di Jakarta
serta lima Cabang Office Channeling di wilayah Jawa Timur.
Dalam menjalankan kegiatannya, Bank Danamon Syariah
menerapkan sistem bagi hasil (mudharabah), jual beli
(murabahah) dan titipan (wadiah).
Per 30 Juni 2007 dana pihak ketiga Bank Danamon Syariah
telah mencapai Rp 455 miliar, sementara total pembiayaan
dalam berbagai bentuk skema syariah sebesar Rp 309 miliar,
dan total aset mencapai Rp 549 miliar.
Berpacu dengan Malaysia
Harapan bahwa bisnis syariah di Indonesia di masa mendatang
akan maju pesat agaknya bisa menjadi kenyataan meski saat
ini aset perbankan baru sekitar 1,7 persen dibandingkan bank
konvensional. tapi nilainya telah mencapai kira-kira Rp 30
triliun, kata pengamat ekonomi Islam, Adiwarman Karim.
Adiwarman yang mengamati perkembangan unit usaha syariah
di tanah air belum lama ini mengatakan, karena Indonesia
negara besar, maka nilai tersebut rasanya masih kecil.
Tapi kalau dibandingkan dengan Malaysia yang aset perbankan
syariahnya sudah mencapai 19 persen dibandingkan bank
konvensional, nilainya hanya sebesar Rp 35 triliun.
Menurut Adiwarman ketika menghadiri acara penghargaan
bagi pelaku bisnis syariah terbaik di Jakarta belum lama ini,
perkembangan ekonomi syariah di Malaysia semuanya ditopang
oleh negara (top down), tapi di Indonesia sesuai permintaan
pasar, sehingga mengalir dari bawah (bottom up) alias tidak ada
campur tangan pemerintah.
Di Indonesia, pemerintah perlu mengatur bisnis ketika usaha
itu telah membesar. Saat ini potensi untuk melakukan bisnis
syariah di Indonesia masih sangat besar, sebagai contoh yaitu
adanya keinginan Malaysia agar para pengusaha Indonesia
mengeluarkan sukuk (obligasi syariah) di Malaysia.
“Keinginan Malaysia itu mengindikasikan adanya keterbatasan
pasar mereka,” kata Adiwarman, dan mengutip hasil survei
salah satu perusahaan asuransi, ia menyebutkan saat ini potensi
asuransi syariah sangat tinggi.
“Survei itu menunjukkan bahwa ada sekitar empat juta
orang yang tidak mau menggunakan asuransi konvensional
ingin memakai asuransi syariah,” ujar Adiwarman dengan
menambahkan bahwa potensi industri asuransi syariah juga
cukup tinggi, karena diperkirakan lima juta bayi lahir di Indonesia
setiap tahun. (Bustanuddin).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download Lagu Gratis, MP3 Gratis